Bukankah pada saat kau membicarakanku, itu sama saja dengan menaruh kaca besar di depan badanmu. Aku dan kau? Apa bedanya. Sama saja hebat berkelit dan senang berkelana. Bedanya, kau membiarkan semua terjatuh dalam tanpa janji yang kau tangkap, dan aku, aku selalu wanti-wanti dari awal, bermain denganku, tak perlulah dengan sepenuh hati. Jadi siapa yang lebih kejam?
.: d :.
aku tak tahu apa yang terjadi dengan hati dan impiku ini
aku merasa nadi ini masih punya nyali
aku masih bisa berlari
aku hanya tak ingin berhenti
.: d :.
“kenapa kamu diam?” ujarnya sambil tersenyum. aku masih mematung sambil memandang ke arah mobil-mobil lain di parkiran lantai dasar. melihatku diam, dia lantas juga mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal lainnya. kami bersandar di jok masing-masing dalam kesunyian. saking sunyinya, sampai-sampai detik jamnya terdengar olehku, pun begitu dengan detak jantungku sendiri. aku memandangnya. dia tersenyum. “apa tidak terlalu cepat?”, kataku. dia menggelengkan kepalanya dengan mimik lucu. “hmm„apa tidak terlalu salah?”, ujarku cepat. dia hanya tersenyum seraya melihat arlojinya. “sudah jam enam. yuk, kita ke mushala untuk shalat maghrib.” “apa kamu bilang tadi? kita?” sambil turun dari mobilnya. memang tidak boleh ya pake kata “kita”? tanyanya dalam perjalanan menuju lift.
**
keluar dari mushalla setelah shalat maghrib, kulihat dia tengah menungguku di dekat tempat sepatu wanita sambil memainkan telepon genggamnya. kuhampiri dia, dan dia berkata, “makan yuk. kamu mau makan apa malam ini?” “apa saja.” tukasku singkat. “kamu marah ya soal tadi?” potongnya. aku hanya tersenyum. “yuk, makan, aku lapar„haha” jawabku sekenanya. bersamanya kuhampiri sebuah restoran yang cukup nyaman untuk berbincang. beberapa menit setelah kami memesan, waiter yang berbadan gemuk menghampiri kami seraya menyajikan makanan yang masih panas. “yeyeye..mari makaan” ujarku lucu sambil menggerak-gerakkan pisau dan garpu. dia tertawa memandangiku yang bertingkah seperti anak kecil. dia belum memegang pisau dan garpunya. lantas dia berkata, “berdoa dulu yuk sebelum makan.” aku tersenyum, kuletakkan kembali pisau dan garpuku. dan dihadapanku, lelaki berparas tampan itu berdoa dengan khusyuk sembari menyentuh kening dan kedua bahunya.
.: d :.
after entitled as an ‘associate’ for a month and enjoying my “gaji buta”, which means i’m paid just for doing training and learning (no, i’m paid just for sit, listen, and sleepy actually, hehe). but tomorrow, i’ll come to the reality. very real till i can’t stand in fear for it. becoming a real auditor. doing whatever the things printed in my beloved auditing books, which i can’t remind it all. somehow it’s like a bed time stories that popped up in your face. just an imagination if you meet ariel the mermaid in the shore you visit with your family, or you find a bottle with genie inside of it. but what i will hold tommorrow, it’s like a—if i can’t named it ‘magic’, let me say it a blessing. honestly i’m so nervous that i can’t do or think anything else. hope my over-analyzing thoughts and my stalking aka ‘kepo’ habits can stand by me to ease my investigation. and i’m happy for it, because finally i can deliver my stalking habits to the right track, with no negative side effects for my mind. haha. In The Name of Allah; The Most Beneficent, and The Most Merciful, i’m ready for tommorow. Dear My Lord, lend me your power, let me through these with your wisdom..
.: d :.